Oleh: Bunga Revina Palit

Hidup berdampingan dengan keragaman menjadi suatu keunikan sekaligus tantangan bagi kita semua dalam berhubungan satu dengan yang lain. Segala respon terhadap keragaman ini ada yang baik, adapula yang buruk. Batasan mengenai baik dan buruknya pun memerlukan pemahaman yang baik sesuai dengan ranahnya masing-masing.
Bagi bangsa Indonesia, keragaman merupakan suatu kekayaan yang tak tertandingi keindahannya. Beragam suku, etnis, budaya, bahasa dan agama menjadi corak warna-warni tersendiri yang begitu menarik menghiasi bangsa ini. Dengan keragaman masyarakat Indonesia ini, setiap dari kita dapat merasakan banyaknya corak perbedaan yang tentu memiliki pengalaman khas tersendiri bagi setiap orang. Namun, bagaimana kita dapat menyikapi corak perbedaan ini tergantung dari cara pandang kita dalam melihat dan memahami arti dari perbedaan itu sendiri.
Dalam buku Meyakini Menghargai yang diterbitkan oleh kerja sama dari Penerbit Exposé, Convey Indonesia dan PPIM UIN Jakarta, mengatakan bahwa Indonesia merupakan bangsa yang memiliki 1340 suku bangsa, 742 bahasa serta beragam agama dan kepercayaan lokal yang ada di Indonesia. Dengan luas wilayah daratan sebesar 1.910.931 km2 yang terpisah pada lima pulau besar dan ratusan pulau kecil di sekitarnya, menjadikan Indonesia dikenal sebagai negara yang sangat luas. Wilayahnya yang sangat luas ini ternyata juga dibarengi dengan keberagamannya yang begitu luas
Dalam buku itu pula menjelaskan bahwa keragaman atau berbagai perbedaan ini sebenarnya sudah sejak dulu menjadi dasar berdirinya bangsa Indonesia. Hal ini dapat dilihat melalui semangat para pejuang kemerdekaan kita yang terlibat dari berbagai suku, agama dan daerah. Kemerdekaan Indonesia sedari awal telah diperjuangkan dengan beragam perbedaan yang akhirnya menyatukan seluruh perbedaan menjadi satu kesatuan. Keragaman inilah yang telah menjadi jati diri bangsa Indonesia itu sendiri.
Ketika kita telah mengetahui bahwa keragaman ini telah membawa banyak andil dalam proses pembentukan jati diri bangsa dan warna dalam perjalanan bangsa ini, sudah sepatutnya kita perlu mengetahui bagaimana cara yang baik dalam proses memelihara dan menghidupi keragaman ini.
Fakta bahwa bangsa Indonesia merupakan bangsa yang multikultural dan sangat plural, melahirkan fakta pula bahwa hal ini seringkali menjadi sumber potensi yang mengakibatkan konflik atau gesekan di tengah masyarakat. Kita masih sering menemui beberapa kelompok yang merasa diri lebih superior dari kelompok yang lain. Kita juga masih sering melihat bagaimana suatu kondisi mengakibatkan perlakuan yang merugikan bagi kelompok tertentu hanya karena mereka berbeda. Perbedaan yang seharusnya menjadi suatu bagian dari kehidupan, dapat menjadi suatu kesengsaraan bagi beberapa orang.
Segala bentuk kekerasan yang berawal dari sikap anti menerima perbedaan kerapkali muncul dari suatu kelompok ke kelompok yang lain atau suatu kepentingan ke kepentingan yang lain. Hal ini tentu mengancam keamanan dan kesatuan bangsa jika terus dibiarkan. Melawan satu ego dengan ego yang lain hanya akan melahirkan perperangan yang berujung pada perpecahan bangsa.
Hal yang tidak kalah mengkhawatirkan ketika terdapat suatu kepentingan yang sengaja memanfaatkan keragaman masyarakat ini sebagai senjata menentukan arah kepentingannya. Hal ini biasa terjadi pada kepentingan politik yang seringkali menggunakan latar belakang agama sebagai pemicunya.
Agama memiliki sifat dasar yang berkepihakan secara emosional bagi pemeluknya, maka itu cukup mudah bagi mereka untuk memainkan emosi para pemeluknya melalui sifat dasar tersebut. Fanatisme ekstrem juga seringkali ditemukan pada pemeluk agama yang berujung pada sikap intoleran dan menyebabkan permusuhan di tengah masyarakat. Ketika hal ini terjadi, tidak heran jika konflik berlatar agama menjadi konflik yang cukup sering dimainkan para pemilik kepentingan untuk tujuan tertentu.
Untuk dapat mengatasi situasi yang mengancam ketentraman dan kedamaian bangsa ini, kita perlu sadar dan mengambil langkah agar tidak terjebak pada intoleransi yang berujung pada tindak kekerasan.
Menurut buku Moderasi Beragama yang diterbitkan oleh Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI, menjelaskan bahwa semangat moderasi beragama dapat menjadi jawaban dan kunci penengah untuk mencari titik temu kepentingan dalam beragama. Ide dasar dari moderasi beragama adalah untuk mencari persamaan secara adil dan berimbang tanpa menghilangkan perbedaan dasar yang ada. Ini dikarenakan keragaman dalam beragama memang tidak mungkin untuk dihilangkan, tetapi kita dapat untuk bersikap adil dalam memelihara keragaman tersebut.
Moderasi beragama dapat dipahami sebagai sikap beragama yang seimbang antara pengalaman sendiri dengan menghormati pengalaman orang lain yang berbeda keyakinan. Keseimbangan dan berpikir adil ini dapat menghindarkan kita dari sikap ekstrem yang berlebihan dalam beragama. Dengan begitu, moderasi beragama dapat menjadi kunci yang membuka jalan menuju toleransi, kedamaian dan kerukunan antar umat beragama.
Kita perlu untuk memerangi segala tindak kekerasan, intoleransi, ekstremisme, radikalisme dan terorisme yang mengancam keragaman bangsa ini serta mengganggu kerukunan dan perdamaian bangsa. Kita semua dapat hidup rukun dan damai bersama perbedaan jika kita semua mau meyakini bahwa keragaman adalah suatu warna kehidupan yang diberikan Tuhan, bukan sebagai alasan untuk menyengsarakan kehidupan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *