Bryan Korua

Belum lama ini Microsoft merilis hasil survei Digital Civility Index Index (DCI) yang mengukur tingkat kesopanan digital pengguna internet dunia saat berkomunikasi di dunia maya. Hasilnya, Indonesia menempati peringkat teratas sebagai warganet paling tidak sopan se-Asia Tenggara.
Dilansir dari Kompas.com (25/2/2021), penyebabnya didasari berdasarkan tiga faktor, yaitu: hoaks dan penipuan, ujaran kebencian, dan diskriminasi. Diantara ketiga faktor di atas, faktor hoaks dan penipuan yang paling tinggi skornya dengan 47 persen, diikuti faktor ujaran kebencian sebesar 27 persen, dan faktor diskriminasi sebesar 13 persen.
Dengan adanya survei tersebut, patut kita renungkan mengapa demikian? Seburuk itukah sikap kita di media sosial sehingga diklaim sebagai warganet yang paling todak sopan di Kawasan Asia Tenggara
Sosiolog UNPAD Ari Ganjar Herdiansyah menilai ketidaksopanan warganet Indonesia dalam bermedia sosial disebabkan budaya literasi Indonesia yang kurang. “Kenapa bisa seperti itu hal ini erat kaitan dengan budaya literasi kita. Tahun 2018 saja kita berada di urutan 64. Sekarang tidak lebih baik hanya 37 persen, artinya literasi kita termasuk rendah. Ini penyebab mengapa ketidaksopanan yang terjadi sekarang,” ujarnya, Jumat (26/2/2021). 
Ari juga menyampaikan bahwa literasi penting bukan hanya membaca dan mendapat informasi tetapi lebih dari itu termasuk dalam bernalar, berpikir, dan mempelajari informasi yang didapat. Dikutip dari laman prfmnews.id, Selasa (2/3/2021).
Melihat berbagai postingan konten di berbagai platform digital, sudah banyak edukasi mengenai cerdas bermedia sosial namun masih saja diabaikan oleh sebagian besar warganet Indonesia. Ini membuktikan bahwa pemahaman tentang literasi sangat penting, bukan hanya tahu apa itu literasi tetapi tindakan yang diambil terhadap apa yang kita pelajari dari literasi yang didapat.
Melalui pemberitaan hasil survei dari Microsoft seharusnya membuka hati dan pikiran kita untuk lebih peka lagi dalam bermedia sosial yang baik bukan berarti kita menyerah dengan keadaan atau bahkan berbalik menyerbu akun medos milik Microsoft dengan ujaran kebencian, seolah mengiakan bahwa netizen Indonesia memanglah tidak sopan. Tetapi sebaliknya, dengan adanya Survei ini kita harus mengadakan pembenahan dalam bermedia sosial agar menjadi warganet yang lebih baik kedepannya.
Tentu tujuannya bukan hanya pencapaian agar nama warganet Indonesia bersih, tetapi lebih dari itu. Berdasarkan tiga faktor tadi, diharapkan hoaks dan penipuan, ujaran kebencian, hingga diskriminasi bisa musnah atau paling tidak berkurang angkanya.
Semoga sebagai warganet Indonesia, kita lebih peka lagi terhadap literasi digital terlebih khusus mengenai hal cerdas dalam bermedia sosial agar kita bebas dari hal-hal seperti berita bohong, ujaran kebencian, hingga diskriminasi di media sosial dan tentunya kita tidak lagi dihantui sebagai warganet paling tidak sopan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *